Breaking News
Loading...
Minggu, 15 Maret 2015

Antara Hijab dan Mantilla

Tren memakai hijab semakin lama semakin trendi, banyak perempuan yang memilih berhijab, berjilbab, berkerudung atau apalah sebutannya. Oke banyak yang menganggap hijab itu berbeda dengan jilbab atau dengan istilah lainnya itu. Akupun nggak begitu mengerti bedanya apa, yang aku tahu ya itu penutup kepala yang dilihat dari teori dan tujuannya memang bagus, melindungi perempuan.

Sekarang di kampus atau kantor yang tidak berhijab bisa dihitung jari, berbeda dengan dulu yang sebaliknya. Sebagai orang katolik awalnya aku memandang hijab itu sebagai sesuatu yang aneh namun sekaligus sakral. Aku dulu menganggap perempuan yang berkerudung itu super seperti biarawati atau suster-suster gereja. Namun perkembangannya semakin kesini, aku anggap jilbab semakin terlihat biasa, hanya aksesoris kepala semata. Mungkin pandanganku salah.

Dulu aku lihat perempuan yang berhijab itu benar-benar perempuan yang siap. Siap menegaskan jika menggunakan hijab berarti harus hidup selaras dengan ajaran yang dianutnya. Konservatifkan pandanganku? Makanya, dulu aku anggap perempuan berhijab itu super. Yah sayang pandanganku tentang hijab sudah berganti, hijab itu tak lebih dari sekedar asesoris. Dulu perempuan berhijab terlihat sederhana namun tetap menarik, sekarang saking trendinya sampe pakai hijab terlihat ribet sangat mewah, padahal katanya nggak boleh kan? Eh?

Sekarang tidak ada bedanya perempuan berhijab dan tidak. Mungkin tidak 100% benar tapi lihat sekitar! Pasti ada fenomena, ketika kuliah berhijab, pulang bawa cowok masuk kamar, tutup pintu dan nggak tahu deh selanjutnya bagaimana. Ada kenalan Si Emak yang kalau ke kantor berhijab, eh waktu belanja di mall ketemu beliaunya nggak berhijab dan rambutnya blonde! Ada juga anak tetangga sebelah, berhijab ke sekolah, eh belanja ke warung sebelah cuma pake tank top dan hot pant. Memang nggak semua seperti itu, tapi nyatanya memang ada dan aku lihat sendiri. Pasti kita sepakat itu hanyalah serombongan oknum.

Aku pernah bertanya pada teman alasan mereka saat pakai hijab "bongkar pasang" (pakai kalau perlu). Jawabannya belum siap 100% atau terpaksa karena lingkungan. Ya kira-kira sendiri maksudnya apa. Kalau sudah begitu biasanya aku cuma bilang, dimantabkan saja kalau belum siap ya nggak usah pakai. Kalau sudah siap, silahkan pakai dan kamu pasti akan jadi perempuan super!

Sekarang apa hubungannya dengan mantilla? Buat yang belum tahu, mantilla itu semacam kerudung tradisional katolik dari bahan yang ringan seperti brokat atau sutra. Sebenarnya mantilla itu tepatnya adalah kerudung model Spanyol namun penggunaannya meluas. Berbeda dengan hijab yang digunakan sehari-hari, mantilla umumnya hanya digunakan saat beribadah mirip dengan rukuh. Mantilla mengandung makna ketaatan dan penyerahan kepada Tuhan.

mantilla indonesia
Mantilla
Dulu gereja katolik roma mewajibkan semua perempuan berkerudung mantilla saat beribadah mirip suster-suster gereja, tapi kewajiban tersebut sudah dihapuskan bahkan di Indonesia hampir tidak dikenal sama sekali. Namun akhir-akhir ini, penggunaan mantilla mulai meningkat di dunia bahkan Indonesia terutama dikalangan generasi muda, seiring dengan meningkatnya penyelenggaraan misa tridentine (ibadah dalam bahasa latin/tradisional). Apakah ada kaitanya tren berhijab dengan bermantilla? Mungkin hanya kebetulan saja.

Sebagian umat bermantilla saat ekaristi di Ganjuran, Yogaykarta
Yang aku akan aku bahas kali ini tidak akan menyinggung masalah penting atau tidaknya memakai mantilla; atau kontroversi diseputarnya. Sudah banyak yang membahas masalah tersebut. Di sini aku hanya menuliskan harapanku agar nasib mantilla tidak seperti hijab.

Saat ini, sama seperti dulu aku memandang hijab, perempuan bermantilla itu super dan keren! Saat ini pun yang memakai mantilla masih sangat sedikit dan hanya perempuan yang siap, seperti curhat seorang blogger perempuan katolik. Semoga akan selalu begitu!

matilla indonesia
Penggunaan mantilla di Indonesia masih sangat jarang.
Aku sendiri tidak berharap penggunaan mantilla kembali menjadi kewajiban, karena sesuatu yang wajib kadang mengandung unsur keterpaksaan dan setengah hati. Ini lah yang disadari oleh gereja, mewajibkan penggunaan mantilla rupanya tidak sejalan dengan peningkatan iman umat, dalam artian umat tidak munafik dalam beriman seperti orang Farisi.

Gereja sendiri sebenarnya tidak benar-benar menghapuskan pemakaian mantilla, gereja masih menganjurkan perempuan untuk bermantilla. Tapi aku rasa saat gereja menghapuskan kewajiban memakai mantilla pada kanon tahun 1983, gereja mungkin berpikir nasib mantilla saat itu sama seperti nasib hijab sekarang ini. Mantilla hanya asesoris belaka. Bahkan ini kembali diingatkan oleh Paus Fransiskus, Bapa Suci masih melihat peningkatan pemakaian mantilla hanya tren fashion belaka. Duh.

Jadi aku hanya berharap perempuan katolik memakai mantilla sesuai dengan kata hatinya, bukan ikut tren dan memahami pilihannya. Karena aku tahu, perempuan bermantilla itu super. Super bukan berarti dia suci, tapi karena dia berani memilih.

Weleh tulisanku rada serius kali ini, walaupun masih amburadul. Kalau ada yang salah aku minta maaf. :) Berkah Dalem.

2 komentar:

  1. Pernah suatu saat saya membaca satu komentar dari seorang wanita Indonesia diFacebook (lupa namanya). Waktu itu dia mau ikut Misa di suatu gereja di Korea Selatan. Ketika dilihat banyak wanita di gereja yang memakai mantilla, dia menyadari bahwa dia tidak memakai mantilla sebagaimana kebiasaannya di Indonesia. Lantas apa yang terjadi? Dia mengambil keputusan untuk tidak jadi ikut merayakan Ekaristi, cuma gara-gara tidak memakai mantilla. Saya fikir biarlah kita berdandan seperti sekarang ini namun datanglah ke Perayaan Ekaristi dengan pantas dan tidak berlebihan dan dengan sikap batin yang kudus penuh hormat dan syukur. Itu tidak saja berlaku bagi wanita tetapi juga para prianya. Kalau wanita harus memakai mantilla untuk mewujudkan sikap batinnya, lantas apa yang bisa ditunjukkan para pria untuk menyatakan kekudusannya? Apakah bagi pria selalu ada pengecualian, ada excuse? Lagi pula kalau sekarang ada anjuran mengenakan mantilla apakah tidak mungkin pada suatu saat anjuran tadi akan berkembang menjadi "harus" atau "wajib" dalam anggapan banyak orang. Bisa saja orang akan berkilah, nggak ada yang mengharuskan, tidak ada yang mewajibkan? Tetapi siapa tahu hati akan berkata dalam hati: ihhh, ibu itu, ihh gadis itu nggak tahu diri. Bisa saja akan terjadi penghakiman dalam hati, dan pasti itu bukan kekudusan lagi untuk menghadiri Misa. Akibatnya bisa pula umat yang tidak mengenakannya akan merasa menjadi "orang lain", seperti contoh yang saya sebutkan di atas. Jadi sebaiknya tidak usah terlalu dianjurkan atau di "blow-up". Pasti Gereja sudah mempertimbangkan matang mengapa mantilla tidak "dianjurkan" lagi. Biarlah yang berhijab "secara Katolik" para biarawati sebagai tanda kaul mereka 100% bagi Kristus. Ini pandangan saya. Maaf kalau kurang tepat. Berkat Tuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih tanggapannya. :D

      memang salah satu pertimbangan mengapa gereja tidak lagi "mewajibkan" pemakaian mantilla karena salah satu alasannya seperti yang Anda sampaikan.

      saya hanya melihat penggunaan mantilla ini sebagai ekspresi iman. mau digunakan ya monggo dan tidak ya monggo. bukan masalah orang ini suci atau tidak. entah kalau orang lain menganggapnya demikian. syukur-syukur yang memakai mantilla adalah orang yang memang siap hatinya.

      kenapa gereja menganjurkan? ketika menggunakan mantilla, orang pasti akan memadukannya dengan pakaian yang "modest", yang pantas dan sederhana. karena sekarang ini terutama di kota-kota besar, banyak yang ke gereja baik pria maupun wanita seperti mau pergi ke mall atau ke pantai. bukannya saya seksis, tapi designer anne avantie sendiri sudah pernah menulis ttg hal ini di majalah hidup.

      tapi kembali lagi, tidak harus memakai mantila, seperti kata Anda, berpakaian pantas sudah cukup.

      kalau ada pertanyaan, "Apakah bagi pria selalu ada pengecualian, ada excuse?" bolehkah saya bertanya kenapa gereja katolik tidak sekalian mengijinkan imam wanita? setara kan bukan berarti sama, seperti kata budayawan jaya suprana :D

      maaf kalau jawaban saya ngawur dan nggak nyambung. berkah Dalem.

      Hapus

Copyright © 2012 Bon A Voyage All Right Reserved
Designed by CBTblogger